Search Now

Memuat...

15 Hari Keliling Jawa (Bag-2) : Klenteng Sam Poo Kong, Masjid Agung Jawa Tengah Semarang

11.46 EnryMazniDotCom 0 Comments

EnryMazniDotCom- Proyek 15 hari keliling jawa masih akan berlanjut, hari ini saya masih mau berbagi cerita perjalanan di Semarang, kota yang di kenal sebagai penghasil lumpia ini memang mempunyai banyak lokasi wisata yang membuat saya untuk berlama lama disini, sebut saja seperti Lawang Sewu dan kota lama yang telah sukses saya kunjungi semalam *Sukses? hahaha*.  Untuk tempat tujuan hari ini saya rencana hanya mengunjungi 2 spot area wisata, yaitu Klenteng Sam Poo Kong dan Masjid Agung Jawa Tengah, sebenarnya itu lokasi yang sangat berjauhan diantara keduanya, tapi hari ini saya akan pergi sama teman orang Semarang. Kebetulan dia bekerja di Rumah Sakit dr Karyadi Semarang dan kami bergelut di bidang yang sama, Perekam Medis dan Informasi Kesehatan. Setelah malam sebelumnya sudah membuat janji sama teman untuk ketemuan hari ini di Rumah Sakit dr Karyadi.

Pagi ini, saya diantar sama Bambang, adeknya Mba Bhenny couch surfing Semarang, tempat saya menginap selama berada di kota ini. Dengan menggunakan sepeda motor, Bambang pun melaju menuju tempat meeting point di Rumah Sakit dr Karyadi tadi. Setelah di drop depan Rumah Sakit saya harus menunggu sebentar, dikarenakan teman saya tadi belum datang. Syukurlah perjalanan untuk mengexplore Semarang hari ini menggunakan sepeda motornya, hahaha setelah kemaren satu harian saya berkeliling seharian dengan berjalan kaki. Tak lama kemudian si Fitri pun datang dan ngobrol ngobrol sebentar kami langsung menuju ke tempat tujuan pertama kami yaitu Klenteng Sam Poo Kong, dan ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat kami saat ini.
Baca Juga : 15 Hari Keliling Jawa (Bag-1) Ber Wisata Ke Semarang Kota Lumpia

Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong merupakan sebuah petilasan, yaitu bekas persinggahan pertama laksamana Tiongkok beragama islam yang di kenal dengan Zheng He, menurut cerita Laksamana Zheng He berlayar melewati laut jawa, saat berlayar banyak anak buah nya yang jatuh sakit, sehingga laksamana Zheng He memutuskan untuk berlabuh di pantai utara Semarang, kemudian mereka berlindung di dalam sebuah goa dan mendirikan sebuah masjid di pinggiran laut dan sekarang berubah fungsi menjadi sebuah klenteng. Setelah Laksamana Zheng He pergi meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan pelayarannya, banyak anak buah kapalnya yang tinggal di desa dan menikahi penduduk setempat, Laksamana Zheng He mengajarkan cara bercocok tanam dan menyebarkan ajaran ajaran agama islam, berladang dan bertani merupakan menjadi keseharian penduduk setempat, konon katanaya, di klenteng ini terdapat sebuah makam juru mudi kapal Laksamana Zheng He.
www.enrymazni.com
Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong yang berdominan warna merah ini menjadi tempat wisata di kota Semarang, dengan harga tiket masuk Rp 10.000/orang, pengunjung sudah bisa menikmati bangunan sejarah peninggalan Laksamana Zheng He asal Tiongkok ini, dengan halaman yang sangat luas tepat berada di tengah tengah klenteng, membuat pengunjung harus menggunakan payung untuk menuju ke beberapa tempat di dalam area klenteng ini. Di dalam area klenteng Sam Poo Kong beridiri gagah sebuah patung yang besar Laksaman Zheng He, dan bagi pengunjung yang ingin mengabadikan moment dengan menggunakan pakaian tradisional China yang berlatar belakang bangunan bangunan lama, juga tersedia disini dengan tarif yang menurut saya cukup lumayan mahal ya. Pertama masuk ke area klenteng ini kita akan disuguhkan sebuah pelataran besar dengan tiang tiang yang berdiri kokoh. lokasi ini sangat cocok untuk sejenak beristirahat setelah berkeliling klenteng ini.
www.enrymazni.com
Patung Zheng He
Sebelum melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi masjid Agung Jawa Tengah, saya pun diajak Fitri ke rumah Mba nya di daerah *Saya tidak tahu namanya* pokoknya yang saya ingat jalan menuju ke rumah Mba nya itu mendaki perbukitan dengan viewnya kota Semarang. Dikarenakan Fitri sudah janji mau membantu Mba nya di warung kebetulan sekali sore hari itu di seputaran rumahnya lagi diadakan perlombaan agustusan. Mba nya Fitri mempunyai warung kecil kecilan di halaman rumahnya, karena yang dijualnya adalah Mie Ayam, jadi saya berkesempatan untuk mencicipi semangkok mie ayam yang enak tenan, apalagi porsi yang dihidangkan pun lumayan banyak dan bisa dijadikan sebagai pengganti makan siang hari ini. Menjelang sore hari menuju Masjid Agung Jawa Tengah, saya hanya menghabiskan waktu mengobrol ngobrol sama Mba dan Mas nya teman saya tadi, berbagai macam topik pun kami bicarakan sambil mengisi waktu petang itu. Di seputaran rumah teman saya kita bisa melihat bentangan bangunan bangunan kota Semarang yang berbatasan dengan laut Jawa, sore yang menyenangkan bisa melihat pemandangan kota yang terbentang luas di hiasi dengan gedung gedung yang menjulang tinggi seperti sebuah jejeran tiang penopang langit di sore itu *Lebayyyy*.

Dengan mengendarai sepeda motor saya bersama Fitri mulai mengarahkan laju kendaraan menuju Masjid Agung Jawa Tengah, saya penasaran sekali ingin melihat langsung kemegahannya. Masjid Agung Jawa Tengah yang terletak di kota Semarang ini membutuhkan waktu 5 tahun untuk menyelesaikannya, pembangunan yang di mulai dari tahun 2001 sampai dengan 2006 menjadi salah satu icon Provinsi Jawa Tengah khususnya kota Semarang, tak heran saat berkunjung ke sini kita akan menjumpai beberapa bus pariwisata yang membawa para wisatawan untuk melihat lebih dekat Masjid megah ini. Selesai pembangunannya, masjid ini langsung di resmikan oleh presiden Susiolo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006, dan pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah ini tidak terlepas dari Masjid Besar Kauman Semarang. Masjid yang dibangun bergaya arsitektur campuran Jawa, Islam dan Romawi ini selain tempat ibadah juga dijadikan sebagai objek wisata religius, disini terlihat dengan tersedianya penginapan yang terdiri dari 23 kamar dengan berbagai kelas, dan ini juga memudahkan untuk para peziarah menginap disini.
www.enrymazni.com
Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah ini memiliki menara setinggi 99 meter, yang terdiri dari beberapa lantai dan untuk lantai pertama adalah Studio Radio DAIS Masjid Agung Jawa Tengah, sedangkan lantai dua di jadikan museum perkembangan islam di Jawa Tengah, sedikit lebih tinggi yaitu lantai 18 terdapat cafe muslim yang bisa berputar 360 derajat, dan untuk lantai 19 terdapat 5 teropong untuk melihat kota Semarang dan untuk pertama kalinya di gunakan untuk melihat Rukyatul Hilal pada Ramadhan 1427 H oleh tim Rukyah untuk Jawa Tengah.
www.enrymazni.com
Pelataran Msjid Agung Jawa Tengah
Wisata religi saya hari ini, lumayan berkesan sekali dan bangga banget bisa mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah yang megah ini, kesempatan menunaikan shalat maghrib pun tidak saya sia siakan dan alhamdulillah bisa menunaikannya di Masjid Agung ini. Selesai magrib saya beristirahat sejenak di pelataran halaman yang luas banget, dibawah cerahnya langit sambil menikmati keindahan bangunan dan aktifitas pengunjung lainnya yang disetiap sudut tempat di mereka jadikan sebagai moment untuk mengabadikan setiap sudut Masjid. Tiupan angin sepoi sepoi dimalam hari membuat saya dan mungkin para pengunjung lainnya betah berlama lama duduk di pelataran Masjid ini, tapi apalah daya panggilan alam membuat saya harus segera menyudahi kunjungan ini, dikarenakan perut sudah lapar dan segera harus diisi. Saya pun menuju parkiran sepeda motor dan membayar biaya parkir Rp 2000/parkir, untuk makan malam ini saya di traktir sama Fitri, ya mungkin begitulah hukum alam ya *hahaha* kalau tamu memang harus di jamu yang penting jangan sampai jamuran aja jadi tamu *sadar diri*.

Karena makan malam nya di traktir, saya maunya makan enak dunk, setelah beberapa hari di Semarang makannya keseringan angkringan jadi kali ini mari makan ke SS atau dikenal dengan warung Spesial Sambal. Mmmm Yummyyyy, kenyang dan gratis lagi. Makasih banyak buat Fitri yang sudah bersedia di repotin hari ini dan besok juga ya, sebelum saya cabut ke kota selanjutnya. Selesai makan malam, Fitri nganterin saya ke arah Gunung Pati, yaa malam ini saya masih mintak tolong sama Mba Bhenny untuk menjemput di tempat semalam, lagi lagi saya merepotkan mereka. Terima Kasih banyak Mba Bhenny ya yang beberapa  hari sudah disusahkan sama tamu gembel ini untuk antar jemputnya. Seperti biasa malam di rumah Mba Bhenny, sebelum beristirahat kami ngobrol ngobrol ringan dan topik nya masih seputaran jalan jalan dan couch surfing *topik anak traveler tidak jauh dari hobi*. Ini menjadi malam terakhir saya untuk stay di rumah Mba Bhenny, karena besok saya pindah tempat ke rumah Mba nya si Fitri dan hari berikutnya saya akan melanjutkan backpacker an lagi ke Jepara dan Karimun Jawa. Walaupun sebenarnya masih setengah setengah untuk ke Karimun Jawa mengingat saya melakukan perjalan seorang diri dan menurut beberapa informasi kalau di Karimun Jawanya sedikit susah dan membutuhkan biaya besar untuk hoping island ke beberapa spot snorkeling, tapi semua itu harus di coba baru tahu kan? Untuk cerita Jepara dan Karimun Jawa akan saya share di postingan selanjutnya.

Hari ke 5 di kota Lumpia, ya hari terakhir saya dan harus lanjut ke kota berikutnya, pagi ini selesai sarapan pagi di warung pinggiran, lagi lagi makan pagi kali ini di sponsori oleh Fitri *Gratis itu memang indah*. Pengisi perut pagi ini kami semangkok soto daging plus nasi putih membuat saya bisa bertahan sampai sore hari nya di Jepara. Dengan mengendarai sepeda motor menuju terminal Terboyo dan cuaca yang cukup menyengat sedikit membuat Fitri terlihat bete *hehehe nces kemaren habis perawatan booo*. Rencana awal saya mau menumpang bus dari terminal menuju Jepara, tapi tiba tiba pikiran saya berubah untuk mencoba cara lain menuju Jeparanya. Ya, bermodal kan spidol dan kertas yang sudah saya persiapkan sebelumnya saya mencoba untuk ber Hitchhiking menuju Jepara, lokasi saya untuk ber Hitchhiking harus menjauh dari area terminal karena masih banyak bus yang keluar masuk dan dikiranya saya mau menumpang layaknya penumpang pada umumnya *bayar ongkos*, saya haru berjalan lebih kurang 2 KM dari terminal dan berjalan lurus arah Jepara/Kudus.

Pertanyaanya, apakah saya berhasil mendapatkan tumpangan gratis menuju Jepara? hehehe ceritanya akan saya tulis di postingan berikutnya tentang serunya ber Hitchhiking sambil ngacungkan jempol di pinggiran jalan raya. Di tunggu ya ceritanya dan jangan lupa juga untuk berlangganan artikel dari EnryMazniDotCom melalui banner di bawah postingan plus subscribe juga youtube channel saya di 'BCC Traveling', selain tulisan saya juga membuat beberapa video perjalanan saya ke beberapa tempat yang yang sudah saya kunjungi.
Baca Juga : 15 Hari Keliling Jawa (Bag-3) : Hitchhiking Yuuk Dari Semarang Ke Jepara

'Keep Traveling Keep Writing'

BACA JUGA :
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

0 comments :

Terima Kasih Sudah Berkunjung Di Blog Enry Mazni