Search Now

9 Hal Tentang Brunei Darussalam Yang Menarik Saat Travelling

00.14 Enry Maznidotcom 0 Comments

EnryMazniDotCom - Selamat tahun baru 2017 buat semua, memang agak telat seh tapi gak apa apa lah karena masih di bulan februari kok jadi belum basi basi banget ya. Di awal tahun ini saya memulai trip lagi masih bersama #Travelmate saya Firman, Trip awal tahun 2017 ini saya bersama Firman mencoba untuk menjajal negara tetangga yang masih seputaran negara ASEAN. Ini negara ASEAN ke 8 yang berhasil saya kunjungi setelah Singapore, Malaysia, Thailand, Philipina, Vietnam, Cambodia, dan pastinya negara saya tercinta Indonesia. Dan masih ada 2 negara ASEAN lagi yang harus saya finishkan yaitu Myanmar dan Laos, nah bisa ditebak kan negara ASEAN yang saya kunjungi saat ini? Yap, Brunei Darussalam, salah satu negara yang dikenal dengan ketentraman dan kesejahterannya masyarakat Brunei. Dan negara yang menurut saya jarang akan konflik baik politik, ekonomi, sara dan lain lainnya, ini negara dengan 1001 kedamaian, #kayak bener aja kata kata gue. 

Mesjid Brunei Darussalam
Mesjid Brunei Darussalam
Tapi, Brunei juga bisa dikatakan negara yang sepi akan para wisatawan bila dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya. Tetapi piliahan travelling saya kali ini tidak lah salah, meskipun Brunei bukan salah satu negara tujuan wisata populer bagi para ‘koper’ maupun ‘backpacker’. Karena rasa penasaran yang sangat tinggi akan negara yang ‘adem ayem’ ini maka saya pun memutuskan untuk menginjak kaki pertama kalinya bersama maskapai si merah yang selalu ‘menyediakan’ tiket murah meriah tetapi tidak murahan.

Perjalanan saya mulai dari Jakarta, dengan menumpang Airasia yang menerbangkan saya dari terminal 2 Soekarno-Hatta pukul 19.50 menuju KLIA2 Kuala Lumpur. Seperti biasa, saya selalu mengandalkan KLIA2 sebagai tempat transit disetiap travelling, salah satunya ya karena promo murah meriahnya Airasia adalah masuk dan keluar dari Kuala Lumpur. Penerbangan memakan waktu lebih kurang 2 jam terasa amat sangat lama bagi saya pribadi, tetapi alhamdulillah perjalanan Jakarta Kuala Lumpur selamat dan landing dengan sempurna, tepat pukul 22.20 pesawat pun sudah menginjakkan kakinya di landasan pacu KLIA2 dan saatnya untuk bersiap siap segera turun. 

Langkah kaki saya dan para penumpang lainnya mulai melangkah keluar pesawat, dari pintu pesawat menuju imigrasi bandara lumayan jauh tapi tidak terasa karena saya pun mengisinya dengan mengobrol sama travelmate saya. Urusan imigrasi pun berjalan lancar tanpa banyak basa basi petugas imigrasinya langsung menstempel pasport saya sebagai tanda saya diperbolehkan masuk ke negara mereka.

Sambil menunggu penerbangan lanjutan ke Brunei besok paginya pukul 06.40 kami ingin bersantai malam di KLIA2 saja sesuai dengan rencana awal. Tapi memang dasarnya aja tidak pernah bisa duduk diam, akhirnya malam itu kami putuskan untuk pergi ke Bukit Bintang, dengan menumpangi Bus dari bandara menuju KL Sentral. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 an dan yakin sekali saat tiba di KL Sentral tidak ada lagi monorail yang beroperasi menuju Bukit Bintang dan you know what? saat tiba di KL Sentral suasananya sudah sepi dari aktifitas hilir mudik manusia yang biasanya sangat padat untuk ukuran sebuah terminal seperti KL Sentral.


Akhirnya kami menggunakan prinsip seperti kata pepatah ‘banyak jalan menuju roma’ meskipun sudah tidak ada lagi monorail yang beroperasi kamipun menggunakan ‘monolegs’ kami masing masing berjalan menuju Bukit Bintang di tengah malam disaat orang lain sudah menikmati indahnya tidur dan beristirahat. Dari KL Sentral menuju Bukit Bintang dengan jalan kaki bisa kami tempuh lebih kurang 1 jam sambil membawa carrier masing masing dipunggung (usaha yang luar biasa).

Sebenarnya tidak ada yang mau dilihat seh ke Bukit Bintang sampai segitu ngototnya ke sana tengah malam dengan jalan kaki hahaha, sesampai di lokasi kamipun lanjut ke jalan Alor, tempat favorit sekitaran Bukit Bintang untuk sekedar duduk santai sambil mengisi perut kami yang tidak lapar lapar amat, karena saat landing di KLIA2 tadi kami sempat makan nasi padang yang dibawa dari Jakarta. Dengan perut yang setengah lapar dan keinginan yang sangat teramat kuat (huaaa lebay) untuk mencicipi makanan favorit saya yaitu Tom Yum akhirnya tercapai dengan perjuangan yang bisa dikatakan lumayan ya. Selesai makan kami pun lanjut kembali ke KL Sentral masih menggunakan ‘monolegs’, sesampai di KL Sentral kami langsung menaiki bus pertama yang beroperasional saat itu untuk kembali ke KLIA2. Bus pertama beroperasional dari KL Sentral menuju KLIA2 pukul 03.00.
Waiting For Boarding at KLIA2
Waiting For Boarding at KLIA2
Malam pertama kami di Kuala Lumpur sudah menghabiskan sejumlah uang, ongkos Bus KLIA2 menuju KL Sentral 12 MYR/orang x 2 orang 24 MYR, begitu juga ongkos baliknya. Dari KL Sentral menuju Bukit Bintang dengan menggunakan ‘monolegs’ ongkosnya gratis cukup beli ‘bensin’ saja air mineral ukuran 1,5 liter seharga 2.85 MYR dan makan malam di jalan Alor seporsi Tom Yum untuk berdua dan nasi putih seharga 18.5 MYR. Jadi total pengeluaran berdua malam ini 69.35 MYR (rate 3.050 IDR), ehhhh penting gak seh infoin biaya? Hahaha. Sesampai kembali di KLIA2 kami menuju ke area keberangkatan untuk print boarding pass di mesin ‘self check in’ dan masih tetap ke konter untuk cek dokumen (passport) setelah itu baru bisa masuk ke ruang tunggu. Dan kamipun sudah bersiap untuk berangkat menuju Brunei dalam beberapa jam lagi.

BRUNEI


Pagi ini semangat sekali rasanya untuk menempuh perjalanan selama 2 jam 25 menit menuju negara ASEAN ke 8 yang saya kunjungi, sebuah negara yang dalam pikiran saya akan sangat berbeda dengan negara negara lainnya yang sudah pernah saya kunjungi, kunjungan yang penuh dengan ekspektasi yang wah wah. Sebuah negara yang sangat jarang dijadikan sebagai tujuan wisata, dan mungkin bahkan beberapa para tavellers tidak memasukkan Brunei dalam list kunjungan wisatanya. Well, setiap orang pasti berbeda beda apa yang dia sukai dan apa yang ingin dilihat didalam setiap kunjungan/perjalanannya. 

Seperti yang saya lakukan, selain mempunyai misi untuk melengkapi list negara ASEAN yang harus saya kunjungi, pastinya ingin melihat kemegahan mesjid-mesjid yang dibangun oleh sultan Brunei. Brunei sebuah negara yang berada dalam satu pulau dengan negara Indonesia yaitu di pulau Kalimantan dan bertetangga dengan negara Malaysia juga. Brunei, Sabah, Pontianak bisa ditempuh melalui jalur darat dan menurut saya mempunyai kesamaan baik dari segi aksen bahasa dan budaya karena masih dalam satu rumpun/pulau Kalimantan.

Ok sebelum saya menceritakan kemana saja selama 3 hari di Brunei, saya sedikit mau berbagi hal hal yang menarik untuk di ketahui saat berada di Brunei dalam 9 Hal Tentang Brunei Darussalam Yang Menarik Saat Travelling.

1. Meskipun Brunei mata uang resminya adalah Brunei Dollar (BND), tetapi masyarakat setempat menyebutnya dengan Ringgit disetiap transaksi yang dilakukan, dan bukan Ringgit Malaysia ya. Alasannya karena dollar itu adalah negara komunis ‘begitu kata bapak asrama tempat saya menginap bilang’.

2. Coba perhatikan uang kertas Brunei, mempunyai dua sisi yang berbeda contoh dalam uang kertas 10 BND dimana satu sisinya tertulis dengan tulisan ‘Ten Dollar’ sementara disisi sebelahnya tertulis ‘Sepuluh Ringgit’.
Touch Down Brunei Intl Airport
Touch Down Brunei Intl Airport
3. Saat pertama cek in di Hostel ‘Youth Centre’ kami sempat mengobrol dengan kepala asramanya, saat itu saya memanggilnya dengan sebutan Bapak/Pak tetapi si Bapaknya tidak mau dipanggil dengan sebutan ‘Bapak/Pak’ karena dia bilang saya bukan bapak kamu, lebih baik manggilnya dengan sebutan ‘Om’ saja.

4. Jangan bayangkan Brunei seperti Kuala Lumpur/Singapore yang ramai akan aktifitas, apalagi disamakan dengan Indonesia. Brunei itu lebih sepi, baik di jalan raya maupun di tempat tempat tertentu, kendaraan yang hilir mudik di jalan raya pun bisa dihitung dengan jari.


5. Transportasi yang harganya terjangkau di Brunei adalah dengan menggunakan Bus dan ongkosnya 1 BND untuk sekali jalan kemanapun dalam Brunei.

6. Bus yang digunakan sebagai transportasi pun jangan bayangkan seperti busway, bus bus seperti di Singapore, karena bus di Brunei itu adalah bus bus jadul yang masih difungsikan dan tentunya kenyamanan penumpang tidak diabaikan meskipun bus jadul, karena setiap bus menggunakan AC.

7. Ini yang menarik, setiap kami menggunakan bus selama di Brunei, hampir 90 % orang Indonesia sebagai driver dan kernetnya.

8. Selain Dollar Brunei (BND) sebagai mata uang resmi untuk bertransaksi oleh masyarakat setempat, kita juga bisa menggunakan Dollar Singapore (SGD) sebagai mata uang yang sah untuk bertransaksi, karena rate mata uang BND dan SGD itu sama, alias 1:1.

9. Dan pastinya masyarakatnya sejahtera.

Ok, semoga beberapa hal diatas bisa membantu dari sedikit hal yang saya ketahui saat di Brunei. Dan saya akan berbagi cerita Brunei di postingan selanjutnya.

'Keep Traveling Keep Writing'
BACA JUGA :
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

0 comments :

Terima Kasih Sudah Berkunjung Di Blog Enry Mazni